Duta Damai Yogyakarta pada tanggal 16-17 Agustus 2017 mengadakan acara camp kebhinekaan bertema mewarnai Indonesia menyambut HUT RI ke 72 tahun. Acara ini diselenggarakan di Spot wisata watu payung desa sambirejo prambanan sleman. Kebetulan saat itu saya ikut daftar menjadi peserta karena acaranya gratis . Duta damai sendiri merupakan mitra dari BNPT untuk menyebarkan konten positif di Dunia Maya. Saya dan teman dari komunitas blogger jogja (KBJ) ikut menghadiri acara ini.

Saya turut hadir dalam camp kebhinekaan “Mewarnai Indonesia” yang diselenggarakan Duta Damai Yogyakarta

Acara camp kebhinekaan mewarnai Indonesia diikuti oleh sekitar 60 peserta dari berbagai komunitas. Komunitas yang hadir antara lain ada Komunitas Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI), KBJ, Saka Pariwisata Sleman, Genpi, dan anggota komunitas lintas komunitas lainnya. Bahkan ada peserta yang rela jauh-jauh dari madura hanya untuk mengikuti acara ini. Acara ini juga dibersama dengan warga sekitar obyek wisata. Mereka turut membantu menyediakan logistik makanan untuk peserta dan ikut dalam acara tumpengan saat malam harinya. Makanan yang disediakan warga pun menarik sebab berupa makanan tradisional yang sering disantap oleh warga. Karena acaranya camp jadi peserta disediakan tenda untuk menginap sampai keesokan harinya.

Pakar Geologi UGM memaparkan sejarah geologi Watupayung Selolangit

Materi kedua dari Masyarakat digital Jogja terkait dengan cara memviralkan konten positif di dunia maya. Kebetulan beliau juga admin dari akun twitter dari info kesenian jogja. Pengalamannya dalam membuat konten positif diberikan kepada peserta. Salah satunya adalah mengcounter issue-issue pilkada jakarta tahun lalu dengan candaan omteloletom yang menjadi trending topic dunia. Kunci dari memviralkan konten positif terutama di twitter adalah menggunakan hashtag dengan bekerja secara bersama-sama untuk menjadikan trending. Jika ada issue-issue negatif kita juga sebaiknya jangan ikut membahasnya di dunia maya karena akan menambah impresi masyarakat yang melihatnya.

Peserta belajar memviralkan konten positif dari masyarakat digital jogja

Pada malam harinya yaitu malam kemerdekaan peserta dan warga bersama-sama mengadakan acara tumpengan. Besoknya 17 Agustus 2017  merupakan hari kemerdekaan RI yang ke 72. Warga sekitar ikut turut serta dengan memberikan banyak makanan untuk kenduri ini. Tumpengan dan doa bersama di pimpin oleh tetua dari warga sekitar. Sebagai ungkapan syukur atas kemerdekaan Indonesia.

Warga turut serta memeriahkan acara malam 17 Agustus dengan membawa makanan

Setelah tumpengan selesai warga dan peserta turut dalam diskusi mengenai toleransi dan kebhinekaan. Narasumber yang hadir dalam acara ini ada seorang romo, pak halim, dan putri dari presiden ke 4 RI gusdur yaitu Alisa Wahid. Narasumber menyampaikan bagaiman pengalaman mereka dalam menjaga toleransi di Indonesia dan berharap agar generasi muda akan dapat menjaganya. Ibu Alisa wahid juga menyampaikan bagaimana pengalaman beliau saat masih bersama dengan Almarhum Gusdur. Di akhir acara bapak camat berkenan hadir memberi sambutan, bapak camat dari Prambanan juga menyampaikan kepada peserta untuk turut mempromosikan obyek wisata selolagit ini. Acara ditutup dengan deklarasi damai oleh warga sekitar dengan ditandai tanganinya deklarasi damai oleh perangkat setempat. Acara selesai tidak lupa peserta berfoto bersama narasumber dan warga.

Ibu Alysa Wahid putri Almarhum Gusdur sedang menyampaikan materi terkait kebhinekaan

Pada pagi harinya peserta menikmati keindahan sunrise pada pagi hari yang merupakan atraksi utama dari obyek wisata watu payung selolangit. Peserta mengambil foto dan video untuk nantinya di upload di media sosial. Pemandangan yang indah membuat peserta betah berlama-lama untuk menikmati sinar matahari pagi ini. Apalagi sinar matahari yang kekuning-kuningan saat pagi menambah daya tarik dan intagramable cocok untuk di upload dan eksis di instagram.

Menjelang detik-detik proklamasi HUT RI ke 72 peserta dan warga sekitar turut mengikuti upacara bendera. Petugas upacara berasal dari warga sekitar. Ada beberapa warga yang baru pertama kali mengikuti upacara bendera ini. Mahasiswa pun jarang mengikuti upacara bendera. Acara kemudian diakhiri dengan penampilan jathilan dari warga sekitar, ada warga juga penari yang sampai kesurupan saat menarikan jathilan ini. Selesai menikmati performa tarian jathilan dari warga, peserta pulan kembali ke daerah asal masing-masing.

Peserta camp kebhinekaan menikmati performa tarian jathilan dari warga

Dari acara ini kita dapat ambil kesimpulan bahwa setiap manusia itu pada dasarnya adalah baik. Oleh karena itu, perlulah kita untuk menghargai sesama manusia. Seperti kata pepatah

Perlakukan orang lain seperti apa yang orang lain lakukan kepadamu

Demikian pengalaman saya dalam mengikuti acara camp kebhinekaan ini. Jangan lupa like and share apabila bermanfaat hehe